Kamar kos ini berdinding tipis. Dinding yang memisahkan dua kamar itu jadi saksi bisu percakapan malam antara dua orang asing. Dia di sebelah, suaranya terdengar jelas. Awalnya hanya obrolan ringan lewat tembok, lalu jadi rutinitas. Tapi makin malam, topiknya makin personal. Batas antara iseng dan butuh mulai kabur. Suatu malam, salah satu dari mereka berhenti menjawab.