Satu telepon bisa menggulingkan karier, tapi sekaligus menyelamatkannya. Jakseen terpaksa mengurus departemen yang sama yang sempat mengelayoff-nya, dan ternyata kenangan lama justru jadi bahan yang sulit dikelola. Di tengah tuntutan target dan tekanan atasan, ia harus memilih: mempertahankan prinsip atau bertahan di pekerjaan. Siapa sangka manusia yang sama bisa jadi penyapu dan penjaga Gerbang, dan keputusannya di ujung-ujungnya menentukan jalan yang sama sekali tak terduga. Apakah kepercayaan diri yang kembali benar-benar cukupkuat untuk menghadapi masa depan?