Pasar saham Indonesia 90-an bukan tempat buat anak SMA main-main. Dia baru 17 tahun tapi sudah bisa baca grafik saham lebih cepat dari para broker senior. Setiap rekomendasinya laris, investor berebut ikut. Tapi popularitas itu bikin dia curiga ada kartel saham yang ingin memanfaatkannya. Keluarga terus menekannya untuk fokus ujian masuk PTN, sementara teman-teman mulai menjauh karena dia terlalu sibuk dengan angka dan grafik. Pertanyaannya bukan lagi apakah dia bisa bertahan di dunia saham kejam, tapi mau jadi alat orang lain atau keluar sebelum terlambat.