Satu tendangan koplak, satu pukulan busa, dan segala yang berantakan. Ia hanya ingin makan ramen, tapi dunia tetap memilihnya untuk bertarung melawan monster yang lebih gede dari punggungnya. Setiap episodenya berulang: ia bangun, makan, lalu menghancurkan ancaman yang sebenarnya tidak ia pahami. Tapi tak ada yang peduli. Yang penting ia tetap mengalahkan semua lawannya dengan tendangan sederhana. Siapa sangka kekuatannya justru membuatnya kesepian, dan pertanyaannya bukan siapa pelakunya, melainkan mengapa ia justru merasa bosan setelah menang.