Lima tahun lalu dia berjuang di medan perang, bermandi darah, hanya demi bisa pulang hidup-hidup dan melihat putri kecilnya lagi. Kini dia kembali sebagai junjungan tertinggi sejuta pasukan Dinasti Dama — puncak kejayaan yang diraih dengan luka dan air mata. Tapi saat pintu rumah terbuka, gadis kecil yang dulu memeluknya setiap malam kini menatap dingin. Jarak yang menganga bukan karena waktu, melainkan sesuatu yang terjadi selama ia pergi. Pertanyaan yang mengusik: apa yang dialami putrinya selama lima tahun tanpa dirinya?