Pernikahan yang seharusnya jadi pesta malah berubah jadi medan perang. Kian Tejal siap mengucap janji suci, tapi di belakang layar kakak perempuannya yang lagi hamil besar pulang kampung buat hadir. Masalahnya, tunangan Kian salah sangka — ngira kakak itu adalah orang ketiga yang mau merebut Kian. Nggak ada ruang buat klarifikasi. Cekcok terjadi, dan yang paling parah, kakak Kian keguguran. Semua itu baru diketahui Kian saat pesta pernikahan masih berlangsung. Amarahnya meledak, sumpah keadilan menggema di tengah pelaminan. Keluarga tunangannya baru sadar ketika semuanya sudah telanjur hancur. Pertanyaannya, pernikahan masih bisa lanjut setelah darah dan tangis jadi bagian dari resepsi?