Salah paham di saat yang salah. Titik mula yang biasanya selesai dengan maaf — tapi yang satu ini bercabang ke arah yang nggak siapa pun duga. Dua insan yang belum pernah benar-benar bertatap, terseret arus asumsi yang numpuk tiap hari. Masing-masing yakin tahu yang lain, padahal cuma merangkai cerita dari bayangan. Yang nyata, yang dikira, dan yang disembunyikan, akhirnya susah dipisahkan. Kalau fondasinya salah sangka sejak awal, masih bisakah dibangun sesuatu yang utuh?