Seorang ibu bekerja keras di sebuah desa kecil, dan setiap malam dia masih berdoa di depan rumah sakit tempat_putrinya dirawat. Anak perempuannya terpaksa tinggal di sana karena kondisi kesehatannya yang melemah. Warga sekitar mendengar doa-doa ibu itu, dan perlahan, mereka mulai merinding. Sesampai satu malam, seorang dokter muda menemukan catatan harian ibu itu di laci laci lemari kamarnya. Di dalamnya, ada ratusan hal yang tak pernah ia ucapkan dengan keras, tapi dikorbankan demi si kecil yang tak bisa bicara. Siapa sangka doa yang diam-diam itu justru menjadi senjata terkuat untuk melawan kekaliran yang tak terukur?