Di sebuah kafe pinggir jalan, Ayu masih setiap hari menaruh secangkir kopi hitam di depan meja kosong yang dulu didudukinya. Tujuh tahun dia menunggu, mengira kemenangan cinta bisa menebus semua kesalahan masa lalu. Tapi malam itu, dengan kertu menu yang rusak dan senarai kekurangan cinta yang panjang, dia akhirnya memilih untuk tidak kembali. Bukan karena tidak mencintainya, tapi karena sudah cukup menyakitkan diri sendiri dengan harapan yang sama. Sebuah tetes kopi jatuh, bukan sebagai simbol, tapi sekadar karena meja sedikit condong. Apakah kita pernah benar-benar bisa mengatakan 'maaf' yang cukup bagi orang yang pernah kita pilih dengan semua yang kita miliki — atau apakah yang tersisa hanyalah kebiasaan untuk sakit?