Sepak bola memang bukan sekadar olahraga di sini — tapi modal untuk naik dan turun. Siapa sangka setinggi-tinggi pemain yang dulu bikin stadion berdiri dan gemuruh, kini berlindung di balik kampak yang sama untuk menjual cerita. Mereka tidak lagi di pusat perhatian, tapi bayangkan, kampak itu masih bisa bicara jika kita mau dengar. Setiap lega di trotoar, setiap golek kecil, seperti sedang menyimpan kenangan yang tak pernah sempat selesai. Lalu suatu hari, seorang anak yang baru belajar main tembak-tembakan datang, bertanya serius: apakah kampak itu pernah merindukan main di lapangan sehat? Siapa sangka jawabannya datang dari arkib lama, berdebar, seperti terakhir kali sebelum peluit penuh pertandingan dikibarkan suatu malam.