Suara detak jantung kaku di dinding kontrakan sempaja. Setiap malam, tetangga sebelah kamar teriak, lalu tiga kali knak knus, berhenti. Siapa pun yang dengar jadi tahu: ini bukan omongan biasa, ini pola. Tiga malam pertama yang berhasil bertahan, karena karena ada teman sekamarnya yang diam-diam pasang microphon ke pintu kayanya. Tapi suara itu takkan kembali lagi. Lalu wajahnya muncul di depan gerbang, senyumnya sok manis seperti pelayan kos yang baik. Pertanyaannya simpel: siapa yang sebenarnya mendengar lebih dulu, dan kenapa dia tertawa saat kamu diam.