Nama yang mengancam lewat dari guci keras di dapur. Bukan kutukan hantu, tapi bisikan kuno yang melekat di tubuh lelah seorang penyair muda. Ia jalan kaki sehari penuh, nyari obat turun buat darah mencair, sekaligus ngingelin jiwa yang diam-diam lagi kehausan. Tempatnya? Kamar sakit, koridor, dan gerbang rel kereta terakhir. Ternyata, penyihirnya bukan yang duduk di puncak tahta. Siapa sangka ilmunya ada di pinggang bustednya celana dalam bekas kemasan lama?