Darah murni mengalir di lantang sekte. Di balik pintu kayu berlumur hitam, seorang pemuja tengah menyiapkan pengorbankan yang disebutkan dalam kitab kuno — tapi sang pemuda yang dipilih justru menemukan catatan lama di dasar kuil, berisi nama-nama yang sudah dilenyapkan. Setiap kata di kertas itu berdarah, dan setiap nama yang terukir memicu kenangan yang bukan miliknya. Ujung-ujungnya, ia menyadari pengorbanan tidak untuk para dewa, tapi untuk menyembunyikan kebenaran yang dibunuh bertahun-tahun lalu. Siapa sangka darah di paha ia justru kunci untuk membuka mulut yang sudah lama tertutup.