Seorang kaisar muda yang paling kerensanan di ibu kota. Ia menasiati pawai keperdanain setiap malam, sementara istana penuh intrik dan likut ulama-ulu yang selalu mencari alat utik utik untuk menggulingkannya. Ujung-ujungnya, ada yang harus mengorbankan kenangan indah demi takhta yang berharga. Siapa sangka saudaranya yang paling dekat dengan sang kaisar justru adalah batu penjuru yang paling licin?