Di antara gerai butik dan kafe bergaya di pinggir kota, ada seorang sales yang harus menjual sesuatu yang tak bisa dikupasnya. Setiap transaksinya terikat label harga — bukan sekadar angka, tapi pilihan yang menentukan siapa yang layak dilayani. Ketika ia bertemu klien yang datang tanpa uang tapi dengan senyum yang tak terduga, ia mulai ragu pada sistem yang selama ini ia anggap logis. Apakah harga sebuah rasa punya batas? Pertanyaannya tak lagi soal berapa, tapi siapa yang berhak menentukan.