Siapa sangka seorang ratu yang berkuasa harus menghadapi aib terbesar — suaminya memilih kabur. Takhta masih berdiri, mahkota masih melingkar di kepala, tapi sosok yang seharusnya berdiri di sampingnya sudah tidak ada. Ratu harus mempertahankan wibawa di hadapan rakyat sambil menyembunyikan kenyataan pahit bahwa pasangannya ternyata pengecut. Tanpa suami pendamping, legitmasi kekuasaannya mulai dipertanyakan, dan keraton berubah menjadi panggung pertarungan antara kehormatan dan kelemahan. Bisakah sang ratu bertahan tanpa sokongan yang seharusnya menjadi tiang negara?