Mendapatkan notif palsu dari teman karib biasanya berarti main-main kecil, tapi jiwa justru berhenti sejenak saat ia melirik layar. Dompetnya sudah kosong, pinjaman tak kunjung lunas, dan sang terpercaya justru yang mengirimnya pesan dengan senyuman retak lebar. Dia bukan orang pertama yang kena tipuan, tapi ujung-ujungnya selalu dia yang bangkrut. Ternyata senyumnya tak berkaitan dengan kebutuhannya, melainkan rencana yang sudah teriak-akak sejak awal. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang bersalah, melainkan apakah untungnya layak untuk menjadi gosok hitamnya kepercayaan.