Siapa bilang jodoh cuma soal hati? Mungkin juga soal tendangan dan gol. Dua orang yang tak saling kenal dipertemukan oleh bola—bukan karena mereka pemain, tapi karena nasib yang main-main. Satu kebetulan kecil di lapangan belakang sekolah, satu operan yang salah sasaran, dan hidup mereka nggak lagi sama. Yang satu pemalu dan pendiam, yang satu keras kepala dan suka meledak-ledak. Tapi keduanya sama-sama keras kepala soal prinsip. Dari situ mulai drama, canggung, dan salah paham yang bikin kepala pusing. Siapa sangka bola bisa jadi alasan orang saling jatuh cinta, tapi juga alasan mereka saling menjauh. Kalau takdir main bola, apakah kita cuma jadi penonton?