Rasa itu lenyap tanpa sebab. Tinggal jejaknya — samar, tipis, nyaris tak terasa. Seseorang duduk sendirian, mencoba mengingat kapan segalanya terasa utuh, lalu bangkit menyusuri tempat yang dulu memberinya warna. Tiap lokasi membukakan potongan kenangan berbeda, dan satu nama terus muncul di setiap jeda. Tapi dia belum yakin siap menyebutnya lagi. Yang dia nggak tahu: rasa itu pergi karena seseorang — atau justru karena dia sendiri.