Api dan es dalam satu tubuh. Itu gambaran paling dekat untuk memahami Phoenix Treads Frost, karya yang hadir tanpa banyak pengumuman. Genre dan tahunnya sengaja dibiarkan samar, seolah misteri justru jadi bagian dari pengalaman menontonnya. Dari judulnya saja, sudah terbayang dua kekuatan berlawanan yang harus hidup berdampingan—atau saling menghancurkan. Siapa tokoh di balik nama itu? Apa yang membuatnya harus berjalan di atas lapisan dingin sambil membawa bara? Semua masih gelap, dan justru di situ daya tariknya. Penonton diajak masuk tanpa peta, tanpa petunjuk, hanya dengan imajinasi yang dipicu oleh dua kata yang bertabrakan. Mungkin ini kisah tentang perjuangan, mungkin juga tentang kehancuran yang indah. Yang jelas, ada sesuatu yang hangat di tengah dingin, dan kita hanya bisa menebak apa yang akan terjadi saat keduanya benar-benar bertemu.